Oleh: Darul Makmur | 23 Januari 2009

Teks Pidato Barack Obama saat Pelantikan

Amerika Teman Seluruh Bangsa

Teman-teman,

Hari ini, saya berdiri di sini, siap menghadapi tugas-tugas yang menghadang, bersyukur atas kepercayaan yang Anda berikan, menghargai pengorbanan para pendahulu kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush karena sudah menuntaskan pengabdiannya pada negara, juga atas kemurahan dan kerja samanya selama masa transisi.

Sekarang, genap sudah empat puluh empat warga Amerika yang mengikrarkan sumpah kepresidenan. Janji sudah diucapkan di tengah meningkatnya kemakmuran dan terperliharanya perdamaian. Meskipun, sering kali pengambilan sumpah terjadi saat awan berarak-arak dan badai mengancam. Sampai saat ini, Amerika masih mampu bertahan bukan semata-mata karena kemampuan atau visi mereka yang menduduki jabatan penting, tapi lebih karena kita sebagai rakyat tetap setia pada ideologi para pendiri negara dan memegang teguh dokumen-dokumen fundamental.

Fakta bahwa kita berada di tengah krisis, kini bisa dipahami dengan baik. Bangsa ini sedang menghadapi perang melawan lingkaran kejahatan dan kebencian yang sulit diuraikan. Perekonomian kita benar-benar lumpuh, dampak keserakahan dan tidak bertanggung jawabnya sekelompok kecil orang. Tapi, juga karena kegagalan kita memberikan pilihan-pilihan dan mempersiapkan bangsa ini menyambut era baru. Rumah disita, pekerjaan lepas, bisnis kacau. Jaminan kesehatan pun menjadi sangat mahal; pendidikan tidak terjangkau seluruh kalangan; dan tiap hari semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa gaya konsumsi energi kita kian mempertebal rasa permusuhan dan mengancam keselamatan bumi.

Data dan statistik yang muncul mengindikasikan bahwa kita sedang menghadapi krisis. Satu yang tidak kalah penting tapi sering diabaikan adalah semakin berkurangnya rasa percaya diri di seluruh pelosok negeri – sebuah komplain yang mengandung kekhawatiran bahwa tenggelamnya Amerika tidak terelakkan. Dan, generasi berikutnya juga harus memangkas ekspektasi mereka.

Hari ini, saya tegaskan kepada Anda sekalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi itu nyata adanya. Semua itu serius dan majemuk. Semua itu tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Tapi, ketahuilah ini Amerika – seluruh tantangan itu akan mampu kita hadapi bersama.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan ketimbang ketakutan dan persamaan kepentingan daripada konflik dan perselisihan.

Pada hari ini, kita datang untuk memproklamasikan berakhirnya keluhan-keluhan yang picik dan janji-janji palsu. Berakhirnya saling tuding dan penerapan dogma-dogma yang tidak perlu, yang sudah terlalu lama mewarnai panggung politik kita.

Negeri ini masih tetap dianggap muda, tapi meminjam istilah Alkitab, sudah tiba masanya untuk menyudahi sifat kekanak-kanakan. Waktunya sudah tiba untuk menyalakan kembali semangat juang kita; untuk memilih sejarah yang lebih baik; untuk tetap memelihara anugerah istimewa, ide-ide yang mulia, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yakni, bahwa Tuhan memandang semua orang sama. Semuanya memiliki hak yang sama untuk menikmati kebebasan dan berhak mengejar kebahagiaan masing-masing.

Menegaskan kembali kebesaran bangsa ini, kita harus benar-benar memahami bahwa keagungan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja. Itu harus diupayakan. Perjalanan kita bukanlah jalan pintas dan sama sekali tidak mudah. Bukan perjalanan mereka yang suka santai – yang lebih memilih bersenang-senang daripada bekerja atau hanya melulu mengejar kemewahan dan ketenaran. Sebaliknya, mereka yang berani menghadapi risiko, para pelaku, para pembuat keputusan – sebagian masih dikenang sampai sekarang, tapi sebagian besar adalah perempuan dan laki-laki pekerja keras biasa, yang telah menempuh perjalanan jauh dan merintis jalan menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka rela mengemas harta yang tidak seberapa dan bepergian menyeberang samudera dalam mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka rela bekerja keras dan berkeringat dan menetap di Barat; bertahan dalam cambukan dan membajak tanah yang benar-benar keras.

Demi kita, mereka berjuang dan meregang nyawa, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg; Normandy dan Khe Sanh.

Perempuan serta laki-laki pejuang itu berusaha keras dan rela berkoban dan tidak berhenti berupaya sampai tangan mereka kasar. Semuanya hanya demi kehidupan yang lebih baik. Mereka memandang Amerika lebih dari sekedar sejumlah individu yang ambisius; lebih dari sekedar perbedaan kelahiran, kekayaan atau faksi.

Itulah perjalanan yang masih harus kita teruskan hari ini. Kita masih tetap bangsa yang paling makmur dan paling berkuasa di bumi. Para pekerja Amerika sama sekali tidak mengendurkan produktivitas mereka saat krisis terjadi. Kita juga masih tetap terus berinovasi, stok barang dan jasa juga masih tetap sama dengan pekan lalu atau bulan lalu atau tahun lalu. Kapasitas dan kemampuan kita tidak tergerus. Tapi, masa berbangga diri karena mampu melindungi sejumlah kepentingan dan mengesampingkan keputusan yang tidak menyenangkan – jelas sudah berlalu. Mulai hari ini, kita harus kembali berdiri tegak, menyingsingkan lengan baju dan mulai kembali bekerja untuk membangkitkan Amerika.

Kemana pun mata memandang, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Perekonomian menyerukan kepada kita untuk beraksi, lebih berani dan tangkas, dan kita akan segera melakukannya. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga meletakkan landasan-landasan yang baru untuk tumbuh. Kita akan membangun jalan-jalan dan jembatan, sambungan listrik, dan jaringan digital yang akan mendukung sektor perdagangan dan menyatukan kita bersama. Kita juga akan mengembalikan sains pada tempat semestinya dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menjadikannya lebih murah. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari dan angin dan juga tanah dengan maksimal, untuk menggerakkan kendaraan-kendaraan kita dan pabrik yang ada. Dan, kita juga akan meremajakan sekolah dan perguruan dan universitas yang ada supaya bisa memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Semua itu bisa kita lakukan. Semua itu akan segera kita lakukan.

Kini, ada beberapa yang mempertanyakan seberapa besar ambisi kita – ada yang menyatakan bahwa sistem kita tidak akan bisa menoleransi terlalu banyak agenda besar. Kenangan mereka sungguh pendek. Mereka tidak bisa lagi mengingat apa saja yang sudah berhasil dilewati bangsa ini; apa yang bisa dicapai perempuan dan laki-laki bebas saat imajinasi dipersatukan dengan tujuan-tujuan yang lazim dan keberanian.

Yang tidak bisa dipahami mereka yang sinis adalah bahwa tanah sudah terbelah diantara mereka – dan bahwa argumen politik yang selama ini diperdebatkan sudah tidak ada lagi. Pertanyaan yang kita lontarkan hari ini adalah apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil. Apakah program-program yang diterapkan bisa berjalan dengan baik – apakah itu bisa membantu keluarga-keluarga Amerika memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak, bisa mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau dan uang pensiun yang cukup. Jika jawabannya ya, maka kita harus terus maju. Tapi, jika jawabannya tidak, maka program-program itu akan segera dihentikan. Rekan-rekan kita yang menyimpan dolar harus bisa bertanggung jawab atas simpanannya. Mereka harus bisa membelanjakannya dengan bijak, mereformasi kebiasaan buruk, dan menjalankan bisnis dengan transparan – sebab hanya dengan cara demikian kepercayaan yang tulus antara rakyat dan pemerintah terjalin.

Pertanyaan yang ada di hadapan kita bukan tentang dorongan pasar yang mengacu pada kebaikan atau keburukan. Kemampuan pasar untuk memupuk kekayaan dan memperluas kebebasan sudah tidak cocok lagi. Tapi, krisis ini telah mengingatkan kita kembali bahwa tanpa pengawasan yang ketat, pasar bisa memutarbalikkan kendali kita – dan sebuah negara tidak akan bisa makmur dalam jangka waktu lama jika hanya melulu membicarakan tentang kemakmuran. Keberhasilan ekonomi kita selalu bergantung bukan hanya pada ukuran gross domestic product kita, tapi juga pencapaian kemakmuran; kemampuan memperluas kesempatan bagi siapa pun juga – bukan karena amal, tapi karena itu adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan dalam konteks barang.

Terkait pertahanan, kita menolak kepalsuan dalam mewujudkan keselamatan dan tujuan hidup. Para Bapak Bangsa….bapak-bapak bangsa kita menyusunnya dengan ketakutan yang sangat yang bahkan tidak bisa kita bayangkan, sebuah piagam yang mengatur tentang hukum dan hak-hak kemanusiaan. Sebuah piagam yang masih terus dijadikan pedoman dari generasi ke generasi. Tujuan-tujuan yang tercantum di sana masih tetap menjadi cahaya dunia dan kita tidak akan pernah menyerah. Dan, bagi seluruh masyarakat dan pemerintahan yang menyaksikan peristiwa hari ini, mulai dari ibu kota yang megah sampai ke pelosok dusun tempat ayah saya dilahirkan, tahu bahwa Amerika adalah teman bagi seluruh bangsa, semua perempuan dan laki-laki dan anak-anak yang mengharapkan masa depan penuh kebaikan. Dan, bahwa sekali lagi, kami siap menjadi pemimpin.

Mengenang bahwa generasi-generasi sebelum kita harus berkutat dengan fasisme dan komunisme tidak hanya dengan rudal dan tank, tapi kesetiakawanan dan kepercayaan. Mereka paham, dengan mengandalkan tenaga sendiri, kita tidak bisa terlindungi. Tapi, mereka juga tidak mengajarkan kita untuk bertindak semaunya. Setidaknya, mereka paham bahwa kekuatan kita tumbuh dari semangat kehati-hatian; keamanan tercipta dari keadilan, keteladanan dan juga kualitas mengendalikan sesuatu.

Kita semua adalah pewaris. Sesuai prinsip-prinsip yang ada, kita bisa menghadapi seluruh ancaman tersebut. Tentu saja dengan upaya yang lebih serius dan juga kerjasama lebih luas dengan beberapa negara. Kita akan berusaha keras mengembalikan Iraq ke pangkuan rakyatnya dan mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Bersama dengan kawan lama dan mungkin juga musuh bebuyutan, kita akan bekerja tanpa lelah melenyapkan ancaman nuklir dan membahas planet yang makin hangat. Kami juga tidak akan memberikan ampun kepada musuh atau menyerah pada musuh. Mereka yang berusaha keras mencapai tujuannya dengan menyebarkan teror dan juga ancaman, kami akan tegaskan kepada kalian bahwa saat ini semangat kami sudah lebih kuat dan tidak mudah dipatahkan. Kalian tidak akan bisa lagi mempermainkan kami, dan kami akan segera mengalahkan kalian. (Disarikan dari Associated Press/hep/ttg)

http://www.jawapos.com/

Oleh: Darul Makmur | 14 Mei 2008

Ayat-ayat Fitnah

Mohon disebarluaskan sebanyak mungkin
dari Millist Rumah Ilmu Indonesia

Shaad, demi Al Qur’an yang mempunyai keagungan.
Quraish Shihab Membagikan Gratis 40 Ribu Buku Ayat Ayat Fitna
(Rafiqa Qurrata A – detikcom)

Sebuah buku berjudul “Ayat-Ayat Fitna, Sekelumit Keadaban Islam di Tengah Purbasangka” diluncurkan. Buku itu karya Quraish Shihab dan tentu saja isinya tidak mendeskreditkan Islam. Sebanyak 40 ribu buku tersebut dibagikan secara gratis.

Quraish Shihab menjelaskan, Ayat Ayat Fitna berusaha meluruskan kesalahpahaman dari ayat-ayat yang dipakai dalil untuk teror yang menggambarkan umat islam itu kejam seperti yang dipakai oleh film Fitna.

“Jadi ada lima ayat Alquran yang digunakan untuk mendeskreditkan Islam. Padahal isinya sangat bertolak belakang. Justru ajaran Islam ini sangat-sangat damai dan mengajak umatnya untuk memiliki hubungan harmonis dengan pemeluk agama apapun,” kata Direktur Pusat Studi Al Quran itu.

Kenapa judulnya kok ayat-ayat fitna? “Ya karena ini berbicara tentang ayat-ayat Alquran yang dijadikan bahan fitnah,” jelas Quraish saat jumpa pers di masjid Sunda Kelapa, Jakarta .

Buku setebal 98 halaman tersebut disebarkan serempak di enam lokasi di Jakarta. Buku ini juga bisa didapatkan dalam versi e-book.

Quraish Shihab mempersilakan pihak manapun untuk menggandakan bukunya. Namun ia mengingatkan agar buku tersebut tidak dijualbelikan. “Untuk apa diperjual belikan? Kalau diberikan gratis untungnya lebih banyak daripada diperjual
belikan. Memang tertunda keuntungan itu tapi akan berlipat ganda di hari kemudian,” kata Quraish

Oleh: Darul Makmur | 30 April 2008

Diknas X DikBiz

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bila KONSEKWENSI dari sistem Pendidikan Umum/Diknas yang berjalan sekarang TIDAK MERUPAKAN MASALAH bagi Anda, silahkan DIABAIKAN  SAJA.
Saya sendiri bukan seorang “ahli pendidikan” yang telah menguasai “ilmu pengetahuan dan/atau keterampilan di bidang pendidikan” dan saya bukan pula seorang “paranormal”, akan tetapi setelah MEMPELAJARI situasi dan kondisi sekarang dengan daya pikir saya yang terbatas, saya SANGAT KUATIR akan nasib anak keturunan saya di masa depan.
Bila Anda juga demikian (SANGAT KUATIR akan nasib anak keturunan Anda di masa depan), silahkan bergabung untuk BERBUAT NYATA dalam rangka “PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”.
Kita akan membicarakannya dalam pertemuan mingguan di ruang kerja saya, setiap hari yang akan ditentukan atas kesepakatan bersama.
Kita terlebih dahulu akan membicarakan PERBEDAAN antara “WHAT TO DO” dengan “HOW TO DO”.
Setelah itu yang akan dilakukan hanyalah pembicaraan yang menyangkut “WHAT TO DO”, sedangkan pembicaraan yang menyangkut “HOW TO DO” akan dibicarakan nanti dengan TENAGA AHLI yang menguasai “WHAT TO DO” yang bersangkutan.
Ada anak dari seorang teman yang datang berlebaran bersama orang tuanya (teman saya) bertanya kepada saya: “Om, tahun depan saya selesai kuliah . . . setelah tamat kuliah, saya kerja dimana ya . . .?”.
“Jangan tanya Om, tanyakan kepada Bapak kamu . . .”, jawab saya.
” Yaaaah . . . , Oom . . .” ujarnya dengan rasa kecewa.
Pertanyaannya memang wajar-wajar saja, akan tetapi telah membuat saya sendiri merasa lebih kecewa terhadap keadaan yang sedang dihadapi oleh anak dari teman saya itu.
Pertanyaannya menandakan bahwa bapaknya telah tidak berupaya untuk mengimbangi POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL” yang telah terbentuk dalam kepala anaknya selama mengikuti Sistem Pendidikan Umum/Diknas, sehingga seolah-olah setelah selesai sekolah/kuliah HARUS MENJADI “PEKERJA/PROFESIONAL”.
Malah dari pembicaraan yang pernah saya lakukan, ternyata  bapaknya cenderung sangat MENDUKUNG terbentuknya POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL” selama sekolah/kuliah oleh Sistem Pendidikan Umum/Diknas, sehingga KURANG DAPAT MENERIMA kalau saya katakan bahwa DIPERLUKAN POLA-PIKIR YANG LAIN yang BERLAWANAN untuk MENGIMBANGINYA.
Tidak heran dan dapat dimaklumi, karena bapaknya adalah “produk” dari sistem Pendidikan Nasional/Diknas dan bahkan terbukti telah sukes “MENJADI PEKERJA/PROFESIONAL”, yaitu mempekerjakan dirinya sendiri sebagai tenaga ahli di bidang tertentu.
Saya telah menjelaskan bahwa diperlukan sistem pendidikan yang lain untuk menanamkan POLA-PIKIR “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)”, yaitu POLA-PIKIR yang BERLAWANAN dengan POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL”.
Menurut teman saya itu Sistem Pendidikan Umum/Diknas, seperti di ITB, SUDAH MENCAKUP SEMUA BENTUK DAN MACAM PENDIDIKAN YANG DIBUTUHKAN di dunia usaha, sehingga TIDAK DIPERLUKAN LAGI sistem pendidikan yang lain.
Saya coba menjelaskan bahwa Sistem Pendidikan Umum/Diknas menghasilkan POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL” yang lebih fokus kepada “BAGAIMANA CARA MENGERJAKAN (HOW TO DO)”, sedangkan POLA-PIKIR “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)” lebih fokus kepada “APA YANG AKAN DIKERJAKAN (WHAT TO DO)” sehingga tidak mungkin dapat dihasilkan dengan Sistem Pendidikan Umum/Diknas.
“Lho, . . . “WHAT TO DO” dengan “HOW TO DO” itu merupakan satu kesatuan, sehingga TIDAK ADA PERLUNYA DIPISAHKAN DALAM PEMIKIRAN . . .”, katanya.
“Mana mungkin kita akan memikirkan “HOW TO DO” kalau belum mengetahui “WHAT TO DO”" tegasnya lagi.
“Ya, memang begitulah POLA-PIKIR seorang “PEKERJA/-PROFESIONAL” . . . TIDAK AKAN PERNAH MEMBEDAKAN APALAGI MEMISAHKAN “WHAT TO DO” dengan “HOW TO DO”  DALAM PEMIKIRAN . . .”, jawab saya.
Dari “air muka”nya dapat dibaca bahwa penjelasan saya MASIH BELUM ATAU KURANG DAPAT DITERIMA.
Menggunakan POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL” yang lebih fokus kepada “BAGAIMANA CARA MENGERJAKAN (HOW TO DO)” dan sudah tertanam belasan tahun selama SEKOLAH, akhirnya menjadi KEBIASAAN.
Memang diperlukan waktu untuk MELATIH DIRI dalam merubah setiap KEBIASAAN.
Disamping itu diperlukan TEKAD dan KEMAUAN untuk MERUBAH KEBIASAAN  dari menggunakan POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL” yang lebih fokus kepada “BAGAIMANA CARA MENGERJAKAN (HOW TO DO)” menjadi  POLA-PIKIR “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)” yang lebih fokus kepada “APA YANG AKAN DIKERJAKAN (WHAT TO DO)”.
Oleh karena itu saya hanya dapat menegaskan: “Diperlukan sebanyak mungkin “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)” untuk MENYEDIAKAN LAPANGAN KERJA bagi para “PEKERJA/PROFESIONAL” yang dihasilkan oleh sistem Pendidikan Umum/Diknas dan selalu akan bertambah ratusan ribu setiap tahun, sedangkan seseorang TIDAK AKAN MUNGKIN dapat menjadi “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)” kalau masih menggunakan POLA-PIKIR “PEKERJA/PROFESIONAL”.
“Negara dan bangsa ini sudah cukup banyak mempunyai TENAGA AHLI yang akan menjadi “PEKERJA/PROFESIONAL” hampir di semua bidang keahlian, sehingga yang SANGAT DIPERLUKAN adalah “PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)” yang akan MENYEDIAKAN LAPANGAN KERJA bagi para TENAGA AHLI tersebut.
“Kalau begitu ada yang salah dalam sistem Pendidikan Umum/Diknas?” tanyanya.
“Ini bukan tentang “BENAR” atau “SALAH”, akan tetapi tentang “KONSEKWENSI” dari “PROSES PENDIDIKAN” yang dijalankan dalam sistem Pendidikan Umum/Diknas”, jawab saya.
“Tidak ada yang salah dalam sistem Pendidikan Umum/Diknas dalam hal untuk MENGHASILKAN PEKERJA/-PROFESIONAL, karena PEKERJA/PROFESIONAL akan terus DIPERLUKAN sepanjang masa”, ujar saya.
“Lalu . . .?” tanyanya lagi.
“Itulah sebabnya diperlukan sistem pendidikan yang lain, yaitu sistem pendidikan untuk menumbuhkan PENGUSAHA (BUSINESS-OWNER)”, jawab saya.
“Sistem pendidikan yang bagaimana lagi?” tanyanya lebih serius.
“Sistem pendidikan yang TIDAK ADA PERSAMAANNYA dengan sistem Pendidikan Umum/Diknas. Sebab kalau SISTEMNYA masih SAMA maka HASILNYA AKAN SAMA juga, yaitu menjadi “PEKERJA/PROFESIONAL” lagi”, jawab saya.
“Kalau TIDAK ADA PERSAMAANNYA, lalu BENTUK sistem pendidikan yang seperti apa?”, tanyanya lagi.
“Yang jelas “BENTUK” dari sistem pendidikan yang lain itu TIDAK akan SAMA disebabkan oleh PERBEDAAN yang PRINSIPIL tentang “PROSES PENDIDIKAN” yang dijalankan, yaitu bahwa kalau dalam sistem Pendidikan Umum/Diknas terjadi “PROSES DIAJARI” tentang “Ilmu Pengetahuan dan/atau Keterampilan” yang dikenal dengan istilah “PROSES BELAJAR MENGAJAR” oleh seseorang yang telah menguasainya (guru/dosen/istruktur/pelatih), maka “PROSES PENDIDIKAN” yang HARUS dijalankan dalam “sistem pendidikan yang lain” itu adalah “PROSES MEMPELAJARI” tentang “segala sesuatu yang perlu diketahui” dan yang dilakukan sendiri dengan menggunakan “PENALARAN”, jawab saya mencoba menjelaskan.
Akan tetapi oleh karena kelihatannya dia masih kurang paham, lalu saya tambahkan secara “to the point” saja: “PERBEDAAN “BENTUK” yang NYATA adalah bahwa TIDAK ADA “Ilmu Pengetahuan dan/atau Keterampilan” yang diajarkan kepada peserta pendidikan oleh seseorang yang telah menguasainya (guru/dosen/istruktur/pelatih).”
“Jadi, kalau saya menyelenggarakannya, bukan berarti saya
Agak sulit baginya untuk membedakan antara “PROSES DIAJARI” dan “PROSES MEMPELAJARI”, sehingga setelah saya coba menjelaskan dia kelihatan makin tidak dapat memahami tentang PERBEDAAN KONSEKWENSI dari kedua proses tersebut.
Saya katakan bahwa KONSEKWENSI dari “PROSES DIAJARI” adalah NALAR yang menjadi PASIF sehingga PENALARAN makin KURANG BERFUNGSI, sedangkan dari “PROSES MEMPELAJARI” sebaliknya yaitu NALAR akan menjadi AKTIF sehingga PENALARAN makin TAMBAH BERFUNGSI.
Karena pembicaraan masih tetap “belum nyambung”, akhirnya saya tegaskan: “Sekali lagi ini bukan tentang “BENAR” atau “SALAH”, akan tetapi tentang “KONSEKWENSI” dari sistem pendidikan yang dijalankan”.
Wassalam,
“M. A. Dani & Associates”
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka “PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541
Oleh: Darul Makmur | 30 April 2008

Sebagai bahan perenungan bagi para ORANG TUA

Sebagai bahan perenungan bagi para ORANG TUA…

Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika, “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.
“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab Itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku : ……….”, Dikapun menjawab: “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.

Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana: diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin ayahku ………… ..”, Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”.< /SPAN> Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak ………… ..”, maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”. Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya in ginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak ………… .”, Dika pun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”. Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang ………… ..”, Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan P R yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang ………… ……… ..”, Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”. Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari…….. “, Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”. Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari…….. ……..”, Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum” Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku. …”, Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”. Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggi lnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ….”, Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang s ayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan&q uot;. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak ”Pesan Yang Tak Terucapkan”.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2008, saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan. ~

Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas

Oleh: Darul Makmur | 9 Maret 2008

Revolusi Ala Fadel Muhammad

Seseorang dengan tujuan yang jelas, akan mampu membuat perubahan walaupun ia berada di jalan yang sulit, tapi seseorang tanpa tujuan yang jelas tidak akan mampu membuat perubahan walaupun ia berada di jalan yang mulus
(Thomas Charlyl)

Pemimpin adalah pengaruh! Begitu kata Jhon F. Kennedy. Lahirnya pemimpin tidaklah di monopoli oleh letak geografis suatu daerah, karena pemimpin lahir dari proses yang panjang. Dan yang paling utama adalah clear vision. Dengan tujuan yang jelas seseorang akan mampu di perjalankan menuju cita-citanya. Sebagaimana syair arab “ engkau menginginkan kesuksesan tapi engkau tidak berjalan pada jalannya, ketahuilah tidaklah mungkin kapal berlayar didaratan”.

Sebelum Gorontalo mendeklarasikan dirinya menjadi propinsi, ia bagaikan kota culun yang susah di jelajah dan dikenal walaupun dalam lembaran peta. Tapi, setelah ia berubah status, Gorontalo tidak hanya dikenal di tingkat lokal, namun hingga di luar negeri. Pada fase inilah Gorontalo tidak hanya dikenal damai masyarakatnya, namun menggerakkan siapa saja yang datang untuk mengikuti arus derasnya perubahan.

Fenomena ini tidak bisa dipisahkan dengan sosok baru yang tiba-tiba menjelma membawa Gorontalo pada ikon kota agropolitan, ikon yang banyak di tinggalkan oleh daerah lain yang lebih memilih metropolitan. Dialah Fadel Muhammad yang mimpinya ingin mewujudkan Gorontalo sebagai penyangga pangan nasional, saat bangsa ini lagi gemar mengimpor beras, kebijakan slum yang sudah mentradisi.

Sejak Gorontalo dipimpin Fadel, kota kecil ini menemukan posisinya sebagai rumah para petani, sehingga keberadaan kota dan desa bukan menjadi dinding pemisah, tapi sebuah jembatan yang mampu memerdekakan para petani yang selama ini hanya dijadikan main isssu saat kampanye. Dengan visi baru, menejemen baru jurusnya cukup ampuh, dengan gerakan satu juta ton jagung sebagai salah satu produk andalannya. Fadel mampu menyulap jagung Gorontalo menjadi “emas” yang bisa di jual kemana saja. Kalau dulu masyarakat hanya menjadikan jagung sebagai produk makanan bintebiluhuta (makanan khas Gorontalo yang terbuat dari jagung) kini Fadel mampu menyulap jagung menjadi “apasaja” yang dia mau.

Pengalamannya sebagai menejer atau pengusaha di perusahaan terkemuka, membuat Fadel cepat melakukan quantum dan penetrasi budaya perusahaan ke budaya pemerintahan yang terlalu birokratis, seperti bagaimana dia membuat interpreneur government, sebuah lompatan yang jarang dilakukan daerah lain, mungkin esok atau lusa, Fadel akan mewujudkan satu juta interpreneur, satu juta pemikir, satu juta menejer. Kalau anda mengunjungi daerah ini yakinlah sekarang tidaklah terlalu sulit, karena daerah ini sudah memberlakukan revolusi di bidang transportasi, yang setiap hari anda akan bisa mengunjungi kota Agropolitan Gorontalo yang sekarang lebih anggun nan cantik sebagaimana kata orang small is beautiful.

Sumber http://penjarah.blogspot.com

TANRI ABENG: Manajemen, Kunci Keberhasilan Memakmurkan Bangsa

TANRI ABENG: Manajemen, Kunci Keberhasilan Memakmurkan Bangsa
Oleh : Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, M.A.

25-Okt-2007, 22:27:45 WIB – [www.kabarindonesia .com]

KabarIndonesia – Terlahir dengan nama Tanri Abeng, dari sebuah
keluarga miskin di sebuah desa di Pulau Selayar, Propinsi Sulawesi
Selatan, 65 tahun silam. Menyadari keadaan ekonomi keluarga yang
kurang beruntung, sejak usia belia ia bertekad untuk belajar dan
bekerja keras jika ingin menggapai cita-cita yang diinginkan. Semasa
pendidikannya, misalnya, Tanri bersekolah sambil berusaha mencari
uang untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari di antaranya dengan
memberi les, menggandakan catatan-catatan sekolah/kuliah, dan lain-
lain.

Kegigihan dan ketekunan pantang menyerah tersebut kemudian membawa
berbagai keberhasilan baik dalam pendidikan maupun perjalanan
karirnya. Lelaki berkumis klimis ini beberapa waktu kemudian
terpilih sebagai peserta program pertukaran pelajar American Field
Service. Setelah menamatkan SMA-nya, ia meneruskan kuliah pada
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanudin, di Makassar. Saat itu, ia
kuliah sambil bekerja paruh waktu di perusahaan eksportir dan
menjadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Berkat keuletannya dalam
belajar, menjelang tamat kuliah, Tanri memperoleh beasiswa untuk
melanjutkan studi ke jenjang pasca-sarjana, Master of Business
Administration (MBA) di State University, New York, Amerika Serikat.

Perjalanan karirnya dimulai sejak Tanri Abeng bergabung dengan
perusahaan multi-nasional, PT. Union Carbide Indonesia, tidak berapa
lama setelah lulus dan menggondol gelar MBA. Tugasnya saat itu
diawali dari management trainee di Amerika Serikat, dan dalam waktu
singkat, di usianya yang ke-29 tahun, Tanri telah menduduki jabatan
direktur keuangan dan Corporate Secretary di perusahaan itu.
Kecerdasan dan keteguhannya dalam bekerja keras, sekali lagi
menunjukkan hasil yang gemilang bagi perusahaan tempatnya bekerja.
Terbukti, hanya beberapa tahun kemudian ia dialihtugaskan ke
Singapura dan bertanggungjawab atas pemasaran di Asia, Afrika, dan
Eropa.

Walaupun karir dan penghidupannya sangat bagus di Union Carbide,
bahkan ditawarkan untuk menjadi presiden direktur di perusahaan ini
dengan gaji dan fasilitas yang sangat memuaskan, Tanri Abeng lebih
memilih meninggalkan pekerjaan lamanya dan bergabung dengan PT.
Perusahaan Bir Indonesia (PT. PBI) di tahun 1979. Keinginannya untuk
mencoba tantangan baru yang lebih keras dan sulit rupanya menjadi
pendorong utama bagi Tanri menerima tawaran untuk mengelola PT. PBI.
Ia ingin membuktikan dirinya sebagai seorang manajer yang baik dan
handal. Hasilnya? Tangan dingin pria berbintang pisces ini dalam
waktu singkat mampu membawa sukses bagi perusahaan tersebut dan
berkembang menjadi PT. Multi Bintang Indonesia (PT. MBI), dan
mengangkat perusahaan multi-nasional ini menjadi bintang yang
merajai pasar minuman di Indonesia.

Kesuksesan Tanri Abeng di MBI menarik perhatian Aburizal Bakrie,
yang kemudian menawarkannya untuk menahkodai kelompok usaha Bakrie
Brothers. Kemampuan dan kehandalannya dalam mengelola sebuah
kelompok perusahaan terbuktikan selama menjadi Chief Executive
Officer (CEO) dari Bakrie Brothers. Betapa tidak, hanya dalam waktu
setahun Tanri, yang beristrikan Farida Nasution, mampu meningkatkan
keuntungan kelompok perusahaan tersebut hingga 30 persen. Dari
rententan berbagai keberhasilan itulah kemudian Tanri Abeng dijuluki
sebagai “Manajer Satu Milyard”.

Seperti lazimnya, kisah sukses seperti ini pasti akan mengundang
perhatian yang lebih luas dan dari kalangan yang lebih besar atau
berpengaruh. Demikian juga, berita tentang kehandalan manajerial
Tanri Abeng suatu ketika sampai juga ke telinga Suharto ketika ia
masih menjadi presiden republik ini. Kepala negara zaman orde baru
itu kemudian memintanya menjadi Menteri Negara Pendayagunaan BUMN
(Badan Usaha Milik Negara), sebuah kementrian baru di pemerintahan
Indonesia, pada Kabinet Pembangunan VII di tahun 1997. Pada jabatan
baru ini, Tanri mendapat tantangan kerja yang tidak tanggung-
tanggung, ia harus mengelola 164 BUMN dengan sekitar 1.300 anak
perusahaan, yang total nilanya mencapai angka Rp. 500 triliun. Suatu
tugas yang amat berat, namun Tanri pantang mengeluh. “Selain
merupakan sesuatu yang berat, tugas itu merupakan suatu kehormatan
luar biasa karena saya termasuk dalam kabinet penuh tantangan,”
demikian pernyataannya suatu ketika kepada media massa. Jabatan
Menteri BUMN ini tetap berlanjut diembannya hingga kepada
kepemimpinan mantan Presiden BJ Habibie yang menggantikan Suharto
yang lengser oleh gerakan reformasi di tahun 1998. Posisi tersebut
berakhir ketika pemerintahan beralih ke presiden Abdurrahman Wahid
pada pemilu 1999.

Menilik keberhasilan demi keberhasilan yang dicapai oleh pria
langsing nan ramah ini, banyak orang ingin mendengar apa komentar
Tanri sendiri atas penilaian kesuksesan tersebut. Juga tentang
pandangan-pandangan nya terhadap berbagai persoalan dan jalan keluar
dari kemelut bangsa kita. Ia kemudian menjelaskan kiat sukses dan
beberapa pemikirannya kepada Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, M.A. dari
KabarIndonesia dalam sebuah wawancara khusus di Jakarta beberapa
waktu lalu, sebagai berikut:

KabarIndonesia (KI): Di setiap sukses, pasti ada perjuangan dan kiat-
kiat dalam mencapai sukses itu. Di mana letak rahasia keberhasilan
Anda?

Tanri Abeng (TA): Sukses itu relatif. Dan penilaian sukses sebaiknya
datangnya dari luar. Jika orang luar mengatakan saya sukses, ya,
saya berterima kasih. Setidaknya ada dua perspektif dalam hidup ini
yang saya jadikan falsafah hidup. Pertama, saya tidak harus kaya
tetapi hidup berkecukupan. Kedua, dengan banyak teman tidak ada
musuh. Itu saja.

Dalam perspektif ini, untuk bisa mendapat banyak teman kita harus
bisa berkontribusi dalam hidup ini, yang harus dilakukan melalui apa
yang saya sebut pendekatan profesional. Artinya, saya harus memiliki
kedalaman ilmu di mana saya berkiprah. Jadi, kalau saya berbisnis,
saya harus memiliki ilmu berbisnis. Saya memulai karir saya di
perusahaan internasional di bidang accounting, maka saya harus
mendalami ilmu accounting. Selanjutnya, saya bergerak ke bidang
pemasaran, saya harus mendalami ilmu pemasaran dengan sangat
mendalam. Setelah saya jadi pemimpin, saya harus menguasai apa itu
kepemimpinan, baik secara teoritis maupun praktisnya, science-nya
apa dan juga seni kepemimpinan. Tidak semua orang yang memiliki ilmu
kepemimpinan secara teori dapat memimpin dengan baik, karena tidak
memasukan unsur seni memimpin itu. Perpaduan antara ilmu memimpin
dan seni kepemimpinan tersebut berusaha saya pelajari secara
mendalam melalui proses waktu.

Satu hal yang penting juga, bahwa yang namanya ilmu harus selalu
terakumulasi dari waktu ke waktu. Jadi apa yang saya pelajari, saya
praktekkan 40 tahun yang lalu tatkala saya memulai karir saya tidak
pernah hilang. Selama 40 tahun itu saya akumulasikan ilmu dan
ketrampilan saya, sehingga makin lama saya makin memiliki yang biasa
saya namakan dalam terminologi kepemimpinan, yakni wisdom atau
kearifan. Akumulasi dari ilmu dan ketrampilan, membuat saya makin
hari makin memiliki kompetensi. Tapi pada waktu bersamaan saya
merasa perlu terus belajar.

40 tahun terakumulasi, baik ilmu dan ketrampilan, semua itu akhirnya
menjadi kekayaan saya, tetapi dengan itupun saya masih merasa perlu
belajar, maka setiap saat saya terus belajar. Berhadapan dengan
Anda, ada yang saya pelajari. People’s power melalui media
elektronik, misalnya; saya sebelumnya hanya pernah dengar, tapi
secara praktis saya tidak tahu how it works, bagaimana sistim itu
bisa bekerja. Profesionalisme itu identik dengan apa yang saya
namakan optimisme. Bila ini sudah menjadi chemistry atau darah kita,
menurut saya kita tidak akan pernah ditinggal oleh zaman, dan kapan
pun itu, kita akan tetap berguna bagi bangsa dan masyarakat.

Saat ini saya membuka dan mengelola institusi pendidikan, itu bukan
apa-apa. Saya ingin mengembalikan apa yang saya akumulasikan itu
kepada masyarakat, kepada generasi muda, kepada manajer muda,
sehingga yang namanya manajer satu milyar itu hilang tetapi ada
penggantinya jutaan orang lain. Itu yang saya mau, maka saya
membentuk Profesi Manajemen Tanri Abeng and Associates.

Satu hal yang amat penting juga, dalam hidup ini seseorang harus
memiliki nilai. Dan nilai saya itu adalah integritas. Bagi saya,
integritas atau integrity itu tidak bisa ditawar. There is nothing
to say, “You can buy me to replace you.” Integritas itu dalam dua
hal. Pertama, integritas dalam hal profesi saya sendiri. Jadi, jika
saya sebagai pengusaha, saya harus menjadi pengusaha yang baik. Saya
diberi kepercayaan oleh presiden, tugas itu saya laksanakan dengan
tidak mungkin saya akan menyeleweng. Dan integrity inilah yang
membangun basis bagi apa yang saya namakan trust. Kalau trust sudah
kita bangun, kita akan dapat bekerjasama dengan siapa pun. Anda
tidak akan mungkin bermitra dengan saya kalau Anda tidak trust, Anda
tidak percaya. Trust tidak datang dengan sendirinya. Anda pasti
menyelidiki siapa saya. Kalau tidak, untuk apa Anda di sini? Itu
karena saya sudah membangun integritas sejak saya berkiprah di dunia
nyata. Itu adalah modal saya yang kedua.

Dengan dua modal inilah saya membangun kredibilitas. Hidup ini
sebenarnya sederhana saja. Kita makan juga tiga kali sehari. Punya
satu mobil sudah cukup, saya tidak pernah punya mobil lebih dari
satu walau pun saya bisa beli beberapa mobil, karena tidak perlu.
Buat apa punya dua-tiga mobil kalau memang tidak diperlukan. Jadi
kembali lagi kepada falsafah hidup, berkecukupan, tidak perlu mewah.
Tidak perlu mimpi jadi kaya, perbanyak teman, tidak ada musuh,
berbuat sesuatu. That’s all. Ini baru bisa terwujud jika ada dua
aset tadi, yakni akumulasi dari knowledge dan skill, dan yang kedua
adalah integrity.

KI: Nasehat apa yang Anda dapat berikan kepada generasi penerus?

TA: Saya kira kita semua sudah paham bahwa dunia yang sedang berubah
ini perlu kita manage dengan baik. Kita sesungguhnya memiliki sumber
daya alam yang kaya. Kita juga memiliki sumber daya manusia yang
potensial dan berkualitas tinggi. Jaman Pak Habibie, begitu banyak
insinyur-insinyur yang dikirim belajar ke luar negeri. Banyak sekali
orang-orang Indonesia yang luar biasa, memiliki ilmu dan ketrampilan
yang handal. Orang-orang ini dan kegiatan pembangunan bangsa belum
ter-manage dengan semestinya. Sehingga yang terjadi adalah masing-
masing berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya, kekayaan alam kita yang
melimpah tidak seimbang dengan sumber daya manusia yang kita miliki.

Oleh karena itu, kepada generasi muda saya menyarankan atau
mengusulkan agar mereka itu merubah paradigma dari melihat kekayaan
alam itu sebagai gedung mewah, mobil mewah, rumah mewah, kepada
keilmuan, ilmu me-manage sumber-sumber daya yang ada. Dalam
manajemen, kita perlu menempatkan orang yang sesuai ilmu yang
dimiliknya dengan tugas dan tanggung jawab yang akan diembannya.
Tidak seperti dalam berkawan, atau dalam keluarga. Karena dia adik
kita maka kita jadikan dia direktur. Ini tidak bisa lagi begitu,
harus ditata dengan baik. Yang memiliki ketrampilan harus
diberdayakan. Kita banyak memiliki orang pintar, tapi tidak
terbedayakan. Nah, intinya adalah kita perlu pengimplementasian apa
yang saya sebut management. Kita harus merobah cara pandang terhadap
kekayaan alam itu dari benda-benda alam dan kemewahan kepada
intelektualitas. Setiap orang harus belajar apa itu manajemen.
Karena hanya menejemen sajalah yang bisa menciptakan nilai tambah.
Jutaan orang pintar tapi tidak di-manage, tidak akan terjadi proses
nilai tambah. Sering saya katakan bahwa sebenarnya tidak ada negara
yang miskin, yang ada adalah negara yang tidak termanajemeni dengan
baik.

KI: Dalam buku Anda yang populer berjudul ‘Dari Meja Tanri Abeng:
Managing atau Chaos’ dijelaskan detail apa yang telah dicapai dalam
Reformasi Gelombang Pertama, disamping itu walaupun sudah ada rambu-
rambu bagi pembenahan dan penyehatan BUMN, namun fakta menunjukkan
bahwa kinerja BUMN tetap saja buruk. Menurut pendapat Anda bagaimana
caranya agar BUMN mampu tampil sebagai lembaga bisnis yang tangguh
dan efisien, serta bersaing pada pasar global?

TA: Ini salah satu persoalan manajemen pemberdayaan BUMN yang keluar
dari rel-nya. Saya sudah membuat perencanaan dan mengusulkan dalam
konsep saya, Indonesia Inc., bahwa untuk menangani BUMN perlu
dibentuk yang namanya holding company. Yang melaksanakan hal ini
sekarang adalah Malaysia, yakni dengan dibentuknya Holding Khazanah.
Saat ini orang-orang lagi ramai membicarakan rencana pembentukan
holding company ini seperti di Malaysia; padahal orang nomor 1 di
Holding Khazanah itu ke saya dulu untuk bertanya soal ini. Dia
sendiri yang mengatakan bahwa orang pertama yang saya minta
konsultasi ialah Pak Tanri Abeng, itu Datok Asman. Kedua, dia bilang
saya baca bukunya Pak Tanri karena ada di situ yang namanya
holdingisasi.

Tapi ketika di Indonesia, implementasi kacau dan tidak jalan. Karena
leadership dan management tidak jalan. Setelah jamannya saya, semua
master plan sudah saya buat. Saya tidak ngomong saja, ada di buku,
24 jilid. 24 jilid untuk 150 BUMN ada di kantor saya, sampai
detailnya. Jadi saya tidak ngomong saja. It is there.

Reformasi gelombang kedua, saya diganti Laksamana (Laksamana
Sukardi, Meneg BUMN di Kabinet Abdurrahman Wahid – red), kemudian
diganti Rossi Munir, habis itu masuk lagi Laksamana, lalu masuk lagi
yang namanya Sugiharto. Dan dalam 2 bulan terakhir ini masuk Sofyan
Djalil (Meneg BUMN kabinet Indonesia Bersatu, hasil reshuffle awal
Juli lalu – red). Jadi selama kurang lebih 7 tahun, apa yang saya
buat sejak tahun 1999 yang lalu tidak pernah terimplementasikan
sampai sekarang.

Barulah akhir-akhir ini, oleh Sofyan Djalil, yang mengerti konsep
itu. Dia adalah kolega saya dan salah seorang staf saya dulu, dia
akan push. Dalam hal konsep kita menang, tapi ketika tiba pada
tataran implementasi kita kalah, karena kita tidak mengerti
manajemen. Dalam implementasi, kita harus menggunakan platform
manajemen. Saya kasih contoh, konversi minyak tanah ke LPG. Semua
perhitungan ke-ekonomi-an sampai kepada benefit to the consumer itu
tidak diragukan lagi. Angkanya jelas, 23 triliun yang bisa dihemat,
misalnya, oleh pemerintah. Tapi kenapa gak jalan? Tatkala ini
diimplementasikan semua jadi kacau. Kita memiliki perencanaan tidak
jalan, organisasi tidak jelas, eksekusi tidak tahu siapa yang in-
charge, lalu yang namanya review juga tidak bisa jalan. This is pure
an indiscipline of management.

Kembali kepada master plan, road-map BUMN yang sudah saya buat
dengan teman-teman, tidak jalan sampai sekarang. Baru akan mulai
dijalankan lagi. Itu karena kepemimpinan manajemen atau management
leadership tidak bisa menggerakkan implementasi dari konsep yang ada
itu. Tidak di-manage dengan baik, sehingga yang terjadi adalah
konsep ini dikeluarkan dari rel-nya oleh kepentingan politik, dan
terlalu banyak pendekatan birokrasi. Padahal ini adalah bisnis. How
can you run a business dengan pendekatan birokrasi. Kalau Anda itu
monopoli, yes, tapi kan dunia tidak lagi seperti itu. Maka saya
kembali mengatakan bahwa the only way BUMN ini kembali bisa berjaya
kalau semua elit bangsa ini sepakat; eksekutif dan legislatif
sepakat bahwa BUMN harus terbebas dari hal-hal politis dan
birokrasi, yang istilah saya adalah depolitisasi dan
debirokratisasi. That’s it! Dan itu saya tulis.

Di mana-mana saya bicara, kalau 7 orang direksi itu datang dari
kekuatan politik yang berbeda dan Anda disuruh memimpin, apa tidak
kacau. Masing-masing kepentingannya yang menonjol. Belum lagi
kriteria kompetensi tadi, kriteria profesionalnya bagaimana? Kalau
kekuatan politik yang berkuasa, kriteria profesionalisme yang saya
gambarkan tadi, yaitu knowledge-nya, skill-nya, integritasnya, apa
bisa dijamin? We have these problems. Dan bagi saya, ini problem
yang bisa di-solve, kita hanya membutuhkan komitmen manusia. It can
be solved. Malaysia bisa, Singapore bisa, dan India juga bisa.
Bahkan China juga bisa, masa’ kita nggak bisa? What’s wrong with us?

KI: Benarkah menurut Anda bila pemerintah diatur seperti perusahaan?
Negara di-manage seperti perusahaan?

TA: In several relations, yes. Anthony Jay mengatakan bahwa state
and corporation are exactly the same, dalam satu hal: mobilisasi
daripada seluruh resources yang ada. Dan itu manajemen. To mobilize
all the resources secara efektif, negara dan korporasi are exactly
the same. Yang berbeda adalah politiknya. Maka politik memang harus
di atas. Politik yang harus menentukan, ini kita sepakat bahwa harus
demikian. Jadi, memang prinsipnya harus sama. Ada prinsip dari
perspektif manajemen. Politik sebenarnya harus mendukung dari
mobilisasi dari resources ini. Jadi, konsep management resources
allocation sama antara korporasi dan negara.

Tapi, kekuatan politik harus bisa mengatakan: ‘oke, mobilisasi ini
kita terima seperti ini,’ begitu. BUMN sebagai resources negara,
misalnya, kalau kita harus mobilisasi, kita harus kembali kepada
prinsip korporasi karena itu adalah business entity. Maka kekuatan
politik harus mengatakan: ‘ini harus korporat caranya, jangan
birokrasi.’ Jadi, in a way state and corporation are the same,
management resources. Tapi di atas semuanya itu harus ada kekuatan
politik yang meng-endorse bahwa there is the way to do it. DPR
sebagai bagian dari negara harus bisa di-manage, sayangnya DPR kita
gak bisa diatur. Dan di sinilah sebenarnya fungsi kontrol dari
masyarakat. Persoalannya kemudian bagaimana kontrol masyarakat itu
bisa berjalan sementara tingkat pendidikan dan kesejahteraan mereka
sangat memprihatinkan.

Kalau mau melihat negara yang diatur seperti lembaga bisnis, lihat
saja Singapore. The whole government is exactly managed seperti
corporation, exactly! Maka Singapore itu, apa pun yang menentukan
adalah keuntungan ekonomi. Bagi Singapore, Anda bisa ngomong apa
saja, tentang ekstradisi dan sebagainya, tapi lihat variabelnya dulu
yang menjadi barometernya. Misalnya, oke soal ekstradisi, mereka
akan berpikir apa dampaknya ini terhadap ekonomi saya? Itu dulu yang
dia pikir dan pertimbangkan. Dan memang buat mereka itu suatu
keharusan, sebab bagaimana mereka bisa bertahan; bagaimana Israel
bisa bertahan? They have nothing; what do they have? Minyak gak ada,
sawit gak ada, tambang gak ada. Tapi mereka negara kaya. Bagaimana
pun juga, pola pikir bisnis harus masuk dalam pengelolaan sebuah
negara.

KI: Anda juga sekarang banyak berkecimpung dalam bidang penerbitan,
antara lain majalah Forbes dan majalah Globe. Hal apa yang mendorong
Anda untuk menggeluti bidang penerbitan?

TA: Itu adalah bahagian dari kecintaan saya terhadap pembelajaran.
Saya anggap apa yang diterbitkan itu adalah bahagian daripada
pengetahuan, informasi dan pengayaan wawasan. Itu sejalan dengan
kegiatan yang saya geluti dalam 5 tahun terakhir, yaitu pendidikan.
Saya memiliki 2 institusi pendidikan. Satu namanya Executive Center
for Global Leadership (ECGL), untuk mendidik tenaga-tenaga eksekutif
supaya ilmunya mendekati orang-orang yang bergerak di tingkat
global. Yang kedua adalah Pusat Pembelajaran Profesi Manajemen. Saya
sudah berkesimpulan bahwa banyak sekali elit bangsa ini yang tidak
mengerti manajemen. Sedangkan saya sudah menciptakan rumus bahwa
hanya manajemen yang bisa menciptakan nilai tambah.

Saya sudah hidup berkecukupan. Jadi apa lagi yang bisa saya lakukan.
Pendidikan dan media, itu adalah bahagian yang bisa saya kembalikan
kepada bangsa ini. Saya ingin apa yang ada pada saya bisa
termanfaatkan oleh orang banyak. Salah satu cara untuk
menyebarluaskan pendidikan adalah melalui penerbitan, seperti
magazine. Jika Anda menawarkan kerjasama dalam bidang media online
KabarIndonesia, itu amat menarik bagi saya. Karena saya menilai itu
adalah termasuk salah satu cara pendidikan yang efektif.

KI: Apakah Anda merencanakan untuk terjun di dalam kancah politik
lagi dalam Pemilu yang akan datang, misalnya turut mencalonkan diri
sebagai Capres atau Wacapres?

TA: Kalau itu nggak-lah. Politik sebenarnya bukan domain saya. Dan
saya hanya perlu mengerti sedikit supaya bisa membantu siapa yang
saya anggap memang pantas untuk menjadi pemimpin politik bangsa.
Tapi saya tidak akan masuk di arena itu sendiri, karena itu bukan
spesialisasi saya. Skill saya gak di situ.

KI: Kalau menjadi penasehat, bagaimana Pak?

TA: Bolehlah, kalau menjadi penasehat bolehlah. Tapi untuk terjun
sendiri ke dunia politik tidaklah. Hingga kini saya masih memikirkan
di mana saya harus bertengger dalam konstelasi kehidupan berbangsa
dan bernegara sesuai dengan keahlian saya. Tapi yang jelas, tidak di
dunia politik.

Itulah Tanri Abeng, seorang manajer Indonesia yang sukses sepanjang
hidupnya. Pada kehidupan kesehariannya kini, ia masih dipenuhi oleh
kesibukan mengurus lembaga-lembaga pendidikan dan memberikan kuliah
umum di berbagai universitas tentang ilmu manajemen dan betapa
pentingnya bidang ilmu ini dikuasai oleh semua kalangan. Semoga dari
tangannya akan lahir manajer-manajer muda yang memiliki kehandalan
dan integritas seperti sang “Guru Manajemen Indonesia”.

BIODATA SINGKAT TANRI ABENG

Nama Lengkap : Tanri Abeng, SE, MBA
Tempat Lahir : Selayar, Sulawesi Selatan
Tanggal Lahir : 7 Maret 1942

Pendidikan :
- Penerima beasiswa “American Field Service”
- Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar
- Program Master of Business Administrasion, University of New York,
Buffalo

Karir :
- PT Union Carbide Indonesia
- Presdir PT Perusahaan Bir Indonesia (sekarang PT Multi Bintang
Indonesia)
- Presdir Grup Bakrie
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Pembangunan VII
- Meneg Pendayagunaan BUMN Kabinet Reformasi

Blog: http://www.pewarta- kabarindonesia. blogspot. com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindone sia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia. com

Satrio Arismunandar
Producer – News Division, Trans TV, Floor 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 – 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627

Oleh: Darul Makmur | 16 Desember 2007

Menumbuhkan Pengusaha

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

“Menjalankan usaha (bisnis) TIDAK ADA SEKOLAHNYA”, kata para pengusaha pada umumnya.

Suatu kenyataan yang sulit untuk diterima umumnya oleh para pakar pendidikan, apalagi oleh anggota masyarakat pada umumnya.

Bila Anda mengikuti suatu pendidikan (sekolah/kulia/training/workshop) maka Anda akan DIAJARI suatu PENGETAHUAN dan/atau KETERAMPILAN melalui “proses belajar mengajar” oleh seseorang yang dianggap ahlinya (guru/dosen/pelatih/instruktur).

Selama mengikuti suatu pendidikan Anda harus menerima (PASIF) semua yang diajarkan, untuk kemudian kalau perlu menghafalnya dan terutama menguasainya dengan cara berlatih mengerjakan soal-soal dan “PR”.

Konsekwensinya, sadar atau tidak sadar, PIKIRAN/NALAR/LOGIKA menjadi PASIF, artinya harus ada orang lain yang MENGAKTIFKAN, atau situasi yang sedang terjadi (trying situation) MEMAKSA PIKIRAN/NALAR/LOGIKA untuk AKTIF.

Untuk menjadi PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) yang sukses, maka PIKIRAN/NALAR/LOGIKA harus AKTIF.

Dengan demikian untuk MENUMBUHKAN Pengusaha (Business Owner) TIDAK MUNGKIN dilakukan melalui Sistem Pendidikan biasa yang dibuat oleh para pakar pendidikan.

MENUMBUHKAN Pengusaha (Business Owner) HANYA DAPAT dilakukan melalui Sistem Pendidikan yang lain yang kami namakan Sistem “Pendidikan Bisnis”.

Sayangnya masyarakat pada umumnya masih tetap mengharapkan “Menjalankan usaha (bisnis) HARUS ADA SEKOLAHNYA”.

Masyarakat harus disadarkan bahwa negara ini KEKURANGAN PENGUSAHA (BUSINESS OWNER) dan bahwa walaupun “menjalankan usaha (bisnis) TIDAK ADA SEKOLAHNYA”, akan tetapi kami menyelenggarakan ”Pendidikan Bisnis” (“pendidikan” dalam tanda kutip) yang  dapat diikuti oleh mereka yang berminat menjadi Pengusaha (Business Owner).

Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI dalam upaya menumbuhkan Pengusaha (Business Owner), atau yang kami sebut dengan ”PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”, baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami,  untuk membicarakannya lebih lanjut.

“M. A. Dani & Associates”

Wassalam,

Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka “PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Oleh: Darul Makmur | 16 Desember 2007

Untuk Generasi Penerus

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Bangsa ini kekurangan Pengusaha (Business Owner).

Diperlukan kembali sifat KEGOTONG-ROYONGAN bangsa ini untuk MENUMBUHKANNYA.

Pengusaha (Business Owner) yaitu seseorang yang membangun/menyusun suatu “SISTEM BISNIS” berdasarkan POTENSI EKONOMI yang ada disekitarnya dan kemudian menyerahkannya kepada EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL di bidang MANAJEMEN) serta TENAGA PROFESIONAL lainnya yang diperlukan untuk melaksanakannya, dengan pengertian:
1) ”POTENSI EKONOMI’ adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai OBJEK USAHA untuk menghasilkan suatu “PRODUK”, sedangkan “PRODUK” adalah barang atau jasa yang dapat memudahkan atau meningkatkan taraf kehidupan bagi pemakainya.
2) Setiap “SISTEM BISNIS” merupakan RANGKAIAN KEGIATAN  (what to do) dalam suatu “Proses Bisnis” yang terpadu, sehingga penyusunannya tidak lain adalah penciptaan lapangan kerja bagi para TENAGA PROFESIONAL yang kemudian akan menentukan cara melaksanakannya (how to do).
3) Seseorang BELUM dapat disebut PENGUSAHA (BUSINESS OWNER), bila:
a. belum menemukan POTENSI EKONOMI yang akan dijadikan OBJEK USAHA;
b. belum berhasil menyusun “SISTEM BISNIS”;
c. belum menemukan EKSEKUTIF (TENAGA PROFESIONAL)  yang akan menjalankan “SISTEM BISNIS”, sehingga masih mempekerjakan diri sendiri (seff-employed);
d. ”SISTEM BISNIS” yang dibangun/disusunnya belum menghasilkan REJEKI dalam bentuk pendapatan/uang.

Harus SEBANYAK MUNGKIN diantara generasi yang akan datang MENJADI PENGUSAHA (BUSINESS OWNER).

Bahkan bila seorang Pengusaha (Business Owner) kemudian menjadi Investor maka yang bersangkutan adalah “the real investor”.

Jadi bangsa ini tidak hanya kekurangan Pengusaha (Business Owner), akan tetapi juga SANGAT kekurangan Investor.

Oleh karena itu jangan biarkan sampai Investor Asing yang menggarap kekayaan tanah air kita ini, sementara SEMUA anak keturunan kita, generasi penerus, hanya menjadi PEKERJA/PROFESIONAL yang kemudian bekerja untuk kepentingan Investor Asing, atau dengan kata lain (maaf) menjadi “KULI” bangsa asing.

Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang TIDAK MENDUKUNG untuk menumbuhkan Pengusaha (Business Owner) yang dimaksud diatas, sehingga diperlukan lagi Sistem “Pendidikan” (dalam tanda kutip) yang lain yang kami namakan Sistem “Pendidikan Bisnis”.

Disebut Sistem “Pendidikan” (dalam tanda kutip) oleh karena “Pendidikan Bisnis” BUKAN SEKOLAH seperti dalam Sistem Pendidikan Nasional yang berjalan sampai sekarang.

Berikanlah PILIHAN kepada anak keturunan kita, generasi penerus, untuk mengikuti “Pendidikan Bisnis” yang kami selenggarakan, ketimbang meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan biaya yang tidak sedikit.

Bagi Anda yang tertarik untuk IKUT BERPARTISIPASI, BERGOTONG-ROYONG dalam upaya menumbuhkan Pengusaha (Business Owner), atau kami sebut juga ”PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”, baik sebagai PESERTA maupun sebagai PENYELENGGARA, silahkan menghubungi kami, atau sebaiknya datang ke alamat kami,  untuk membicarakannya lebih lanjut.
Wassalam,

“M. A. Dani & Associates”
Jasa Konsultansi dan Pendidikan/Pelatihan Manajemen Bisnis
BERBUAT NYATA dalam rangka “PERBAIKAN NASIB BANGSA MELALUI PENDIDIKAN BISNIS”
Jl. Kampung Melayu Kecil 5, No.3/RT.14/RW.10, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan 12840
Telpon (021) 8303541

Oleh: Darul Makmur | 16 November 2007

Wisata ke Canduang (2), Bukittinggi, Sumatra Barat

Assalamulaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mari kita berkunjung sejenak ke Nagari Canduang (Koto Laweh), Lanjutan kedua

Setelah berkunjung dan menikmati keindahan peninggalan Masjid Bingkudu, dilanjutkan perjalanan hari ini. Perjalanan ini adalah menulusuri persawahan pergunungan yang bertingkat. Jalan diteruskan ke Timur berjalan kaki meliwati lorong sempit jalan yang digali dari ketinggian guguak Bonjo menuju umpuak Lurah diseberang Timurnya. Dilurah kita temui sekelompok surau pribadi atau surau dari kelompok suku atau kelompok keluarga lainnya. Dari Umpuak lurah kita dapat menikmati persawahan indah dilekuk bukit yang mengikuti liukan postur tanah. Setelah melewati kampung andaleh kita tembus ke persawahan nuriang, bentangan sawah dipinggir hulu sungai Batang Agam ini, yang disebut warga setempat dengan sebutan Jabua. Dengan sejarahnya yang panjang sejak gunung Merapi sebesar ” talua itiak” (zaman behaula), Jabua telah menjadikan dirinya suatu sungai dikedalaman yang mempunyai tebing tinggi dikedua sisinya.

Kini dituruni tebing tepi barat Jabua ini, meliuk ke bawah melihat asal sungai vulkanis dengan air putih bersih, karena secara almi telah disaring oleh pasir, kerikil dan batu yang terbentuk secara alami sisa produksi vulkanis ini. Diperhatikan air bening mengalir mengikuti liku bebatuan besar dan kecil, menggoda orang yang memandang untuk menikmati dengan mandi air dingin seperti air dari kulkas ini. Alangkah indahnya ciptaan Allah subhanuhu wataala ini. Dengan mengadakan sedikit pengamatan di Jabua ini, menelusuri aliran air jernihnya akan tampak bagai mana batu vulkanis bisa berbentur bulat, yang dikarenakan telah bergulir dihanyutkan air dan berbenturan satu dan lainnya dari mudik sana. Batu bulat dan kebanyakkan berbentuk telur itu mengoda untuk dikoleksi, atau dibawa sebagai kenangan, kunjungan pertama ke Jabua.

Menembus Jabua berjalan kai, atau tracking menelusuri, kebun kulik manih (accasiavera) milik masyarakat setempat. Yang dulu adalah sebagai tanaman tua yang menopang penghidupan masyarakat untuk dapat mendapatkan uang dalam jumlah yang memadai untuk keperluan khusus. Seperti keperluan menyekolahkan anak, keperluan pernikahan dan keperluan perluasan tanah atau membeli tanah orang yang kebetulan dijual. Ataupun keperluan membuat rumah untak anak-anak yang telah menginjak dewasa.

Dengan melihat daun kulit manis yang memerah serentak terhampar luas, seolah kita disuguhi pandang yang indah tiada bandingnya. Doeloe, semasa aku duduk dibangku SR dan s/d SMA, sering diajak orang tua untuk memanen kayu manis ini, sekedar untuk membayar uang sekolah disetiap penghujung tahun. Apa lagi disetiap mau masuk sekolah kejenjang yang lebih tinggi.

Didalam saat menelusuri indahnya kebun kulik manih ini, akan ditmui batu ngalau, batu yang berlapis seperti kain dan dicelahnya menetes air putih dingin dan bersih. Percikan air indah dan memberi kita nuansa penunjukan kekuasaan sang pencipta.

Dari Jabua, terus ke perkebunan kulik manih tabiang Jabua, dan ngalau batu balapih, dilanjutkan perjalanan tracking mendaki punggung bukit yang agak nakal, karena kecuramannya yang kadang sampai 50 derajat. Melewati jalan setapak yang membawa kita kekehidupan desa nan penuh kedamaian dan keiklasan dan kerelaan, atas penghidupan yang dijalani dalam keseharian petani desa. Petani desa yang hidup marginal, tapi banyak dari mereka dengan kebanggaan tinggi karena dapat menyekolahkan anak mereka sampai menamat universitas. Disinilah keadilan yang maha kuasa. Jika dinilai dengan logika dan kaca mata yang kita miliki. Mana mungkin dengan penghidupan yang marginal tersebut dapat menguliah beberapa orang anak. Tapi sekali lagi itulah kenyataan. Kadang dengan hidup paspasan itu, tapi tetap dengan bertekat tinggi supaya anak-anak bisa menyamai anak orang lain. Dengan segala keterbatasan orang tua maka sianak terbentuk dengan kesederhanaan dan ketangguhan untuk survive dalam meniti masa depannya. Apa bisa kebayang, seorang anak wanita yang kuliah di Banda Aceh sana, hanya dengan uang Rp. 35,000 per bulan all in, dapat menyelesaikan universitasnya dengan nilai tinggi. Karena mereka telah terbentuk dari yang kecil dan meniti kesurvivannya dengan yang kecil itu. Sianak seorang wanita tersebut kini telah menyelesaikan S2nya  di ITB dan kembali berbakti ketempat dia ditempa di Banda Aceh sana. Banyak lagi cerita yang kadang jauh dari logika, tapi ternyata bisa. Itulah kebesaran Allah swt.

Setelah sekitar satu jam menelusuri kebun kulik manih, maka kini kita berada di Sidang Puti Ramuih, sidang yang berukuran paling kecil di Canduang ini. Sidang yang ditopang dengan perekonomian pertanian, tapi telah banyak mempunyai anak mereka yang berhasil manamat pendidikan di Unand, Unri dan Syiah Kuala. Di Puti Ramuih dapat ditemui kembali kendaraan yang ditinggal di Masjid Bingkudu tadi. Kendaraan kembali menuruni jalan ke Jabua kini untuk mencapai sidang Labuang diseberang jabua sana. Di jabua sebaiknya beristirahat sebentar melepaskan kelelahan setelah tracking di perkebunan kulik manih selama lebih kurang satu setengah jam. Disi bisa rilex, memerhatikan kejernihan air Jabua disela, sela babatuan halus kasar dan besar.

Setelah melepas lelah di Jabua, perjalan pelan beringsut mendaki lereng Barat Jabua, diatas dengan ramah pemandangan sawah bertingkat membentang diisebelah kanan. Kini berada didesa Kampuang Sabaleh. Sidang Labuang ini terdiri dari beberapa umpuak yang disebut dengan Kampuang sabaleh, kampouang anam, kampuang limo, batu asahan dan Kocowali.

Sebaiknya kita mapir sebentar di Masjiiid Labuang, yang berlokasi ditengah kesempitan tanah peruamahan ini. Masjid Labuang ini dulunya berdiri disebelah tabek (kolam) yang bermata air besar, yang disebut masyarakat setempat sebagai “Tambarayo”, sehingga sepanjang tahun tidak pernah kering. Bahkan mata airnya itu dulu terkesan angker dan memberikan suatu yang menekan nyali dan logika kita. Tapi kini, entah karena apa, apa karena penggundulan atau sebab lainnya. Tambarayo kini sudah tinggal kenangan saja. Mata air yang dulu angker tersebut, kini tidak berdaya dan hanya mengeluarkan airnya dimusim hujan saja.

Ditelusuri satu-persatu umpuak di Labuang ini, yang rumahnya masih banyak dengan arsitek khusus Minangkabau, yang disebut rumah Gadang. Masih terdapat beberapa rumah Gadang tua dan terbuat dari kayu berdiri kokoh disini. Alangkah baiknya jika dikunjungi rumah gadang ini beberapa buah, sebelum kemudian kembali ke pemondokan, untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat yang berpemandang pegunungan yang spektakuler, Bukik Bulek serta bersiap untuk tracking di hutan tropis nan masih virgin.

Besok dilanjutkan ke perjalanan ketiga dihari kedua.

Wassalamualaikum Ww

Darul M. St. Parapatiah

Oleh: Darul Makmur | 16 November 2007

Puisi Hamka untuk M Natsir

Kepada Saudaraku M. Natsir

HAMKA

Meskipun bersilang keris di leher

Berkilat pedang di hadapan matamu

Namun yang benar kau sebut juga benar

Cita Muhammad biarlah lahir

Bongkar apinya sampai bertemu

Hidangkan di atas persada nusa

Jibril berdiri sebelah kananmu

Mikail berdiri sebelah kiri

Lindungan Ilahi memberimu tenaga

Suka dan duka kita hadapi

Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu

Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi

Ini berjuta kawan sepaham

Hidup dan mati bersama-sama

Untuk menuntut Ridha Ilahi

Dan aku pun masukkan

Dalam daftarmu …….!

Tulisan Sebelumnya »

Kategori